Haditsini mengisyaratkan dengan jelas bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, adalah seorang rasul dan hambaNya, manusia yang juga akan mengalami kematian sebagaimana lainnya. Ada awal perjumpaan, ada pula perpisahan. Allah Ta'ala berfirman: ูููู ุฅููููู
ูุง ุฃูููุง ุจูุดูุฑู ู
ูุซูููููู
ู ูููุญูู ุฅูููููู ุฃููููู
ูุง ุฅูููููููู
ู ุฅููููู ููุงุญูุฏู
Telahmenceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu'bah dari Qotadah dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Dan dari Husain Al Mu'alim berkata, telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri".
SahabatAbu Bakar Radhiyallahu 'anhu berkata:"Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkata:"Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku, Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka.
Maksudnya "Doa seseorang muslim untuk saudaranya secara berjauhan (tanpa pengetahuannya) adalah mustajab. Di kepalanya (yang berdoa) terdapat malaikat yang diwakilkan kepadanya, setiap kali dia berdoa kepada saudaranya dengan kebaikan maka malaikat yang diwakilkan itu akan berkata: Amin dan bagi engkau seperti itu juga (sama seperti apa yang didoakan itu)".
Adapunkhobar "Jika salah satu dari kalian mncintai saudaranya maka kabarkanlah kepadnya" maka diarahkan kepada selain malarindu. Betapa eloknya perkataan sebagian penyair: KAFA ALMUHIBBIINA ADZAABUHUM*TALLOHI LAA ADZDZABATHUM BA'DAHAA SAQOR
74OAt. Kawasan Raudhah dan koridor di depan Makam Rasulullah SAW kian padat menyusul makin banyaknya jamaah haji yang tiba di Madinah, Selasa 24/7. Para jamaah berebut mengunjungi tempat yang disebut penuh berkah tersebut. Di antara keutamaan umat Islam adalah keyakinan kuat tentang nabi dan rasul mereka, Muhammad SAW, meski tidak pernah berjumpa dan belajar langsung kepada beliau. Hal inilah yang menjadikan salah satu poin, mengapa Rasulullah SAW sangat merindukan dan ingin segera bertemu kita, umatnya. Hal ini sebagaimana ditegaskan hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah RA. โSalam atas kalian wahai penghuni kuburan tempat orang-orang beriman. Aku insya Allah akan menyusul kalian. Aku ingin sekali berjumpa saudara-saudaraku.โ Mereka para sahabat berkata, Wahai Rasulullah, bukankah kami saudaramu?โ Beliau bersabda, Kalau kalian adalah para sahabatku. Saudara-saudaraku adalah mereka orang-orang beriman yang belum ada sekarang ini dan aku akan mendahului mereka di telaga.โ Mereka berkata, Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali orang-orang beriman yang datang setelah engkau dari kalangan umatmu?โ Beliau bersabda, Bukankah jika seseorang punya kuda yang sebagian kecil bulunya putih akan mengenali kudanya di tengah kuda-kuda yang hitam legam?โ Mereka menjawab, Yaโ Beliau berkata, Sesungguhnya mereka akan datang pada hari kiamat dengan cahaya putih karena wudhu. Dan aku akan menunggu mereka di telaga.โ Kerinduan Rasulullah terhadap kita, umatnya, secara tegas juga disampaikan oleh Imam al-Qusyairi dalam kitabnya ar-Risalah. Dia mengutip riwayat dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW pernah bersabda.โKapan aku akan bertemu para kekasihku?โ Para sahabat bertanya, โBukankah kami adalah para kekasihmu?โ Rasulullah menjawab,โKalian memang sahabatku, para kekasihku adalah mereka yang tidak pernah melihatku, tetapi mereka percaya kepadaku. Dan kerinduanku kepada mereka lebih besar.โ Akankah kita termasuk mereka yang dirindukan Rasulullah? BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini
Bagaimana cara kita mencintai saudara kita? Di sini dapat kita pelajari dari Hadits Arbain karya Imam Nawawi, no. 13. ุนููู ุฃูุจูู ุญูู
ูุฒูุฉู ุฃูููุณู ุจููู ู
ูุงูููู ุฑูุถููู ุงูููู ุนููููู โ ุฎูุงุฏูู
ู ุฑูุณููููู ุงูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู
ู โ ุนููู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู
ู ููุงูู โ ูุงู ููุคูู
ููู ุฃูุญูุฏูููู
ู ุญูุชููู ููุญูุจูู ููุฃูุฎููููู ู
ูุง ููุญูุจูู ููููููุณููู โ ุฑูููุงูู ุงูุจูุฎูุงุฑูููู ููู
ูุณูููู
ู Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu anhu, pembantu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, โSalah seorang di antara kalian tidaklah beriman dengan iman sempurna sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.โ HR. Bukhari dan Muslim [HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45] Penjelasan Hadits Hadits di atas semakna dengan hadits dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, ููู
ููู ุฃูุญูุจูู ุฃููู ููุฒูุญูุฒูุญู ุนููู ุงููููุงุฑู ููููุฏูุฎููู ุงููุฌููููุฉู ููููุชูุฃูุชููู ู
ููููููุชููู ูููููู ููุคูู
ููู ุจูุงูููููู ููุงููููููู
ู ุงูุขุฎูุฑู ููููููุฃูุชู ุฅูููู ุงููููุงุณู ุงูููุฐูู ููุญูุจูู ุฃููู ููุคูุชูู ุฅููููููู โBarangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk ke dalam surga, hendaknya ketika ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah, dan hendaknya ia berperilaku kepada orang lain sebagaimana ia senang diperlakukan oleh orang lain.โ HR. Muslim, no. 1844 Mencintai bisa jadi berkaitan dengan urusan diin agama, bisa jadi berkaitan dengan urusan dunia. Rinciannya sebagai berikut. 1- Sangat suka jika dirinya mendapatkan kenikmatan dalam hal agama, maka wajib baginya mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya mendapatkan hal itu. Jika kecintaan seperti itu tidak ada, maka imannya berarti dinafikan sebagaimana disebutkan dalam hadits. Jika seseorang suka melakukan perkara wajib ataukah sunnah, maka ia suka saudaranya pun bisa melakukan semisal itu. Begitu pula dalam hal meninggalkan yang haram. Jika ia suka dirinya meninggalkan yang haram, maka ia suka pada saudaranya demikian. Jika ia tidak menyukai saudaranya seperti itu, maka ternafikan kesempurnaan iman yang wajib. Termasuk dalam hal pertama ini adalah suka saudaranya mendapatkan hidayah, memahami akidah, dijauhkan dari kebidโahan, seperti itu dihukumi wajib karena ia suka jika ia sendiri mendapatkannya. 2- Sangat suka jika dirinya memperoleh dunia, maka ia suka saudaranya mendapatkan hal itu pula. Namun untuk kecintaan kedua ini dihukumi sunnah. Misalnya, suka jika saudaranya diberi keluasan rezeki sebagaimana ia pun suka dirinya demikian, maka dihukumi sunnah. Begitu juga suka saudaranya mendapatkan harta, kedudukan, dan kenikmatan dunia lainnya, hal seperti ini dihukumi sunnah. Cinta pada Muslim Sesuai Kadar Iman Kita diperintahkan untuk mencintai sesama muslim. Allah Taโala berfirman, ููุงููู
ูุคูู
ูููููู ููุงููู
ูุคูู
ูููุงุชู ุจูุนูุถูููู
ู ุฃูููููููุงุกู ุจูุนูุถู ููุฃูู
ูุฑูููู ุจูุงููู
ูุนูุฑูููู ูููููููููููู ุนููู ุงููู
ูููููุฑู ูููููููู
ูููู ุงูุตููููุงุฉู ููููุคูุชูููู ุงูุฒููููุงุฉู ููููุทููุนูููู ุงูููููู ููุฑูุณูููููู ุฃููููุฆููู ุณูููุฑูุญูู
ูููู
ู ุงูููููู ุฅูููู ุงูููููู ุนูุฒููุฒู ุญููููู
ู โDan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang maโruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.โ QS. At-Taubah 71. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata mengenai hadits di atas, โDi antara tanda iman yang wajib adalah seseorang mencintai saudaranya yang beriman lebih sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Ia pun tidak ingin sesuatu ada pada saudaranya sebagaimana ia tidak suka hal itu ada padanya. Jika cinta semacam ini lepas, maka berkuranglah imannya.โ Jaamiโ Al-Ulum wa Al-Hikam, 1305. Sikap yang dilakukan oleh seorang muslim ketika melihat saudaranya yang melakukan kesalahan adalah menasihatinya. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, โJika seseorang melihat pada saudaranya kekurangan dalam agama, maka ia berusaha untuk menasihatinya membuat saudaranya jadi baik.โ Jaamiโ Al-Ulum wa Al-Hikam, 1308. Adapun jika muslim tersebut pelaku dosa besar seperti pemakan riba rentenir dan suka mengghibah menggunjing, maka orang tersebut dicintai sekadar dengan ketaatan yang ada padanya dan dibenci karena maksiat yang ia terus lakukan. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, โJika ada dalam diri seseorang kebaikan dan kejelekan, dosa dan ketaatan, maksiat, sunnah dan bidโah, maka kecintaan padanya tergantung pada kebaikan yang ia miliki. Ia pantas untuk dibenci karena kejelekan yang ada padanya. Bisa jadi ada dalam diri seseorang kemuliaan dan kehinaan, bersatu di dalamnya seperti itu. Contohnya, ada pencuri yang miskin. Ia berhak dihukumi potong tangan. Di samping itu ia juga berhak mendapat harta dari Baitul Mal untuk memenuhi kebutuhannya.โ Majmuโah Al-Fatawa, 28209. Ibnu Taimiyah melanjutkan, โDemikianlah prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaโah. Prinsip diselisihi oleh Khawarij dan Muโtazilah serta yang sepaham dengan mereka. Mereka menjadi hanya berhak dapat pahala saja. Atau jika tidak yah mendapatkan siksa saja. Sedangkan Ahlus Sunnah berprinsip bahwa Allah menyiksa orang yang berbuat dosa besar yang pantas untuk disiksa. Mereka pun dapat keluar dari neraka dengan syafaโat sebagai karunia dari Allah. Sebagaimana hal ini didukung oleh hadits dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.โ Idem. Faedah Hadits Pertama Yang dimaksud dalam hadits adalah tidak sempurnanya iman. Kedua Wajib mencintai saudara kita sebagaimana mencintai saudara sendiri. Di sini dikatakan wajib karena ada kalimat penafian umum. Ketiga Wajib meninggalkan hasad karena orang yang hasad pada saudaranya berarti tidak mencintai saudaranya seperti yang ia cintai pada dirinya sendiri. Bahkan orang yang hasad itu berangan-angan nikmat orang lain itu hilang. Sedangkan pengertian hasad menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yaitu, ุงููุญูุณูุฏู ูููู ุงููุจูุบูุถู ููุงููููุฑูุงููุฉู ููู
ูุง ููุฑูุงูู ู
ููู ุญูุณููู ุญูุงูู ุงููู
ูุญูุณููุฏู โHasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.โ Majmuโah Al-Fatawa, 10111. Tingkatan Hasad 1- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang meski tidak berpindah padanya. Orang yang hasad lebih punya keinginan besar nikmat orang lain itu hilang, bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya. 2- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang lalu berkeinginan nikmat tersebut berpindah padanya. Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain, ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja biar kekuasaan tersebut berpindah padanya. Tingkatan hasad kedua ini sama haramnya namun lebih ringan dari yang pertama. 3- Tidak punya maksud pada nikmat orang lain, namun ia ingin orang lain tetap dalam keadaannya yang miskin dan bodoh. Hasad seperti ini membuat seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain. 4- Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, namun ia ingin orang lain tetap sama dengannya. Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya, barulah ia hasad dengan menginginkan nikmat orang lain hilang sehingga tetap sama dengannya. Yang tercela adalah keadaan kedua ketika menginginkan nikmat saudaranya itu hilang. 5- Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang lain hilang. Inilah yang disebut dengan ghibthoh sebagaimana terdapat dalam hadits berikut. Dari Abdullah bin Masโud radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ูุงู ุญูุณูุฏู ุฅููุงูู ููู ุงุซูููุชููููู ุฑูุฌููู ุขุชูุงูู ุงูููููู ู
ูุงูุงู ููุณููููุทู ุนูููู ููููููุชููู ููู ุงููุญูููู ุ ููุฑูุฌููู ุขุชูุงูู ุงูููููู ุงููุญูููู
ูุฉู ุ ูููููู ููููุถูู ุจูููุง ููููุนููููู
ูููุง โTidak boleh hasad ghibtoh kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu Al Qurโan dan As Sunnah, ia menunaikan dan mengajarkannya.โ HR. Bukhari, no. 73 dan Muslim, no. 816 Inilah maksud berlomba-lomba dalam kebaikan seperti dalam ayat, ููููู ุฐููููู ููููููุชูููุงููุณู ุงููู
ูุชูููุงููุณูููู โDan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.โ QS. Al-Muthaffifin 26 Semoga bermanfaat. Allahumma inna nas-aluka ilman naafiโa. Referensi Fiqh Al-Hasad. Cetakan pertama, tahun 1415 H. Syaikh Musthafa Al-Adawi. Penerbit Darus Sunnah. Jaamiโ Al-Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq Syaikh Syuโaib Al-Arnauth dan Ibrahim Bajis. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Majmuโah Al-Fatawa. Cetakan keempat, Tahun 1432 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Penerbit Darul Wafaโ dan Ibnu Hazm. Syarh Al-Arbaโin An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Penerbit Dar Tsuraya. Syarh Al-Arbaโin An-Nawawiyyah. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh. Penerbit Darul Ashimah. โ Oleh Muhammad Abduh Tuasikal Artikel
Kamis, 8 Juli 2021 091447 Rasulullah Sangat Rindu Terhadap Umat Akhir Zaman Suatu ketika berkumpullah Nabi sallallahu alaihi wasallam bersama sahabat-sahabatnya yang mulia. Di sana hadir pula sahabat paling setia, Abu Bakar ash-Shiddiq. โWahai Abu Bakar, aku begitu rindu hendak bertemu dengan ikhwanku saudara-saudaraku.โ Kemudian terucap dari mulut baginda yang sangat mulia Suasana di majelis itu hening sejenak. Semua yang hadir diam seolah sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi sayidina Abu Bakar, itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihinya melontarkan pengakuan demikian. โApakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?โAbu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mulai memenuhi pikiran. Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Baginda bersabda,โ โTidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku.โ Suara Rasulullah bernada rendah. โKami juga saudaramu, wahai Rasulullah,โ kata seorang sahabat yang lain pula. โSaudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.โ Ibn Asakir 30/137, dan dalam Kanzul Ummal, 14/48. Dari Abu Hurairah, bahwa Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam pernah mendatangi pekuburan lalu bersabda "Semoga keselamatan terlimpahkah atas kalian penghuni kuburan kaum mukminin, dan sesungguhnya insya Allah kami akan bertemu kalian, " sungguh aku sangat gembira seandainya kita dapat melihat saudara-saudara kita." Para Sahabat bertanya, 'Tidakkah kami semua saudara-saudaramu wahai Rasulullah? Beliau menjawab dengan bersabda "Kamu semua adalah sahabatku, sedangkan Beliau bersabda lagi ''Maka mereka datang dalam keadaan muka dan kaki mereka putih bercahaya karena bekas wudlu. saudara-saudara kita ialah mereka yang belum berwujud." Sahabat bertanya lagi, ''Bagaimana engkau dapat mengenali mereka yang belum berwujud dari kalangan umatmu wahai Rasulullah? ' Beliau menjawab dengan bersabda "Apa pendapat kalian, seandainya seorang lelaki mempunyai seekor kuda yang berbulu putih didahi serta di kakinya, dan kuda itu berada di tengah-tengah sekelompok kuda yang hitam legam. Apakah dia akan mengenali kudanya itu? '' Para Sahabat menjawab, ''Sudah tentu wahai Rasulullah.'' Aku mendahului mereka ke telaga. Ingatlah! Ada golongan lelaki yang dihalangi Dari Ibnu Abbas Radhiallahu anhu, diriwayatkan suatu ketika selepas shalat shubuh, seperti biasa Rosulullah Shollallahu 'alaihi wasallam duduk menghadap para sahabat. Kemudian beliau bertanya, dari datang ke telagaku sebagaimana dihalaunya unta-unta sesat'. Aku memanggil mereka, 'Kemarilah kamu semua'. Maka dikatakan, 'Sesungguhnya mereka telah menukar ajaranmu selepas kamu wafat'. Maka aku bersabda "Pergilah jauh-jauh dari sini." HR. Muslim No. 367. Siapa Manusia Yang Paling Menakjubkan Imannya Menurut Rosulullah Saw? Sahabatku, Berbahagialan kita ummat Nabi Muhammad karena kita yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah orang yang paling menakjubkan imannya menurut Rasulullah Saw. โWahai manusia siapakah makhluk Tuhan yang imannya paling menakjubkan?โ. โMalikat, ya Rasul,โ jawab sahabat. Lalu Nabi Shallallahu alaihi wasallam terdiam sejenak, kemudian dengan lembut beliau bersabda, โBagaimana malaikat tidak beriman, sedangkan mereka pelaksana perintah Tuhan?โTukas Rasulullah. โKalau begitu, para Nabi ya Rasulullahโ para sahabat kembali menjawab โBagaimana nabi tidak beriman, sedangkan wahyu dari langit turun kepada mereka?โ kembali ujar Rasul. โKalau begitu para sahabat-sahabatmu, ya Rosulโ. โBagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan. Mereka bertemu langsung denganku, melihatku, mendengar kata-kataku, dan juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri tanda-tanda kerosulanku.โ Ujar Rasulullah. โYang paling menakjubkan imannya,โ ujar Rasul โBerbahagialah orang yang pernah melihatku dan beriman kepadakuโ Nabi Shallallahu alaihi wasallam mengucapkan itu satu kali. โadalah kaum yang datang sesudah kalian semua. Mereka beriman kepadaku, tanpa pernah melihatku. Mereka membenarkanku tanpa pernah menyaksikanku. Mereka menemukan tulisan dan beriman kepadaku. Mereka mengamalkan apa-apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka membela aku seperti kalian membelaku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku itu.โ Kemudian, Nabi Shallallahu alaihi wasallam meneruskan dengan membaca surat Al-Baqarah ayat 3, โMereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, dan menginfakan sebagian dari apa yang Kami berikan kepada mereka.โ Lalu Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda, Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku.โ Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam mengucapkan kalimat kedua itu hingga 7 kali. HR. Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis no 17017. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunan Ad Darimi juz 2 hal 398 hadis no 2744 Semoga kita semua, orangtua kita dan anak-anak keturunan kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang sholeh, orang-orang yang menakjubkan imannya menurut Rosulullah saw dan kelak bisa mendapatkan syafaatnya serta berkumpul dengan Rosulullah Saw di Surga. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin. Wallahu a'lam